Profil Seno Gumira Ajidarma
terakhir ikut menerbitkan (kembali) majalah berita Jakarta-Jakarta pada tahun 1985. Pekerjaan sebagai wartawan dijalani Seno sambil tetap menulis cerpen dan esai.Pada awal tahun 1992 Seno dibebastugaskan dari jabatan redaktur pelaksana Jakarta-Jakarta berkaitan dengan pemberitaan tentang insiden Dili pada tahun 1991. Selama menganggur, Seno kembali ke kampus, yang ketika itu telah menjadi Fakultas Televisi dan Film, Institut Kesenian Jakarta. Ia menamatkan studinya dua tahun kemudian. Setelah sempat diperbantukan di tabloid Citra, pada akhir tahun 1993 Seno kembali diminta memimpin majalah Jakarta-Jakarta, yang telah berubah menjadi majalah hiburan.
Pada usia
17 ia bergabung dengan Teater Alam pimpinan Azwar A.N. Sejak itu, ia terus
terlibat dalam dunia kesenian. Seno memulai kegiatan sastranya dengan menulis
puisi, cerita pendek, baru kemudian menulis esai. Puisinya yang pertama dimuat
dalam rubrik "Puisi Lugu" majalah Aktuil asuhan Remy Silado,
cerpennya yang pertama dimuat di surat kabar Berita Nasional, dan esainya yang
pertama, tentang teater, dimuat di surat kabar Kedaulatan Rakyat. Seno kemudian
mendirikan "pabrik tulisan" yang menerbitkan buku-buku puisi dan
menjadi penyelenggara acara-acara kebudayaan.
Hingga
kini Seno telah menerbitkan belasan buku yang terdiri kumpulan sajak, kumpulan
cerpen, kumpulan esai, novel, dan karya nonfiksi. Berikut ini adalah beberapa
karya-karya Seno Gumira , Kumpulan
Cerpen ; Manusia kamar (1988), Matinya Seorang Penari Telanjang (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (1994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Negeri Kabut (1996), Sebuah
Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis
Tidak Pernah Mati (1999), Atas nama
Malam (1999), Dunia Sukab (2001), Kematian Donny Osmond (2001), Sepotong Senja untuk Pacarku (2002), Aku kesepian sayang Datanglah menjelang
kematian (2004), Dilarang Menyanyi di
Kamar Mandi edisi kedua(2006),
Linguae (2007). Novel ; Jazz, Parfum dan Insiden(1996),
Wisanggeni Sang Buronan(2000), Negeri
senja(2003), Kitab Omong Kosong(2004), Biola tak Berdawai(2004), Kalatidha(2007), Nagabumi 1: Jurus Tanpa Bentuk(2009). Puisi ; Mati Mati Mati(1975),Bayi
Mati(1978), Catatan-catatan Mira sato(1978).
Esai ; Ketika jurnalisme dibungkam,Sastra
harus bicara(1997). Non-fiksi ; Cara
Bertutur dalam Film Indonesia: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra FFI 1973
-1992(skripsi, IKJ, 1997) ,Surat dari Palmerah (2002), Affair obrolan tentang Jakarta(2004), Sembilan Wali dan Siti Jenar (2007), Kentut Kosmopolitan(2008). Drama
; Mengapa kau culik anak kami ? .Komik ; Jakarta 2039 (2001), taxi
Blues (2001), Sukab Intel Melayu :
Misteri Harta Centini (2002), Panji
tengkorak : kebudayaan dalam perbincangan (2011).
Begitu
banyak karya sastra yang dihasilkan oleh Seno dan berikut ini adalah beberapa
karya seno yang mendapat penghargaan baik di tingkat lokal maupun luar negri. Cerpen dengan judul Pelajaran Mengarang mendapat penghargaan dari Harian Kompas sebagai
cerpen terbaik pada tahun 1993.Tidak hanya cerpen Pelajaran Mengarang saja yang
mendapat penghargaan tetapi cerpen-cerpen Seno yang lain seperti cerpen
berjudul Kejadian mendapat
penghargaan dari Radio Erif
Rahman Hakim (ARH) pada tahun 1977, cerpen Dunia Gorda
meraih penghargaan dari Majalah
Zaman pada tahun 1980 ,cerpen
Segitiga Emas meraih penghargaan dari Harian Sinar Harapan pada tahun
1991, Pada
tahun 2008 cerpen Cinta di Atas Perahu
Cadik meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2007,
dan pada tahun 2011 lalu cerpen Dodolitdodolitdodolibret
dipilih sebagai cerpen terbaik pilihan Kompas tahun 2010. Selain itu , Seno juga pernah memperoleh Penghargaan
Penulisan Karya Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa untuk
kumpulan cerpen Saksi Mata pada tahun
1995 dan penghargaan South East Asia (S.E.A.) Write Award
untuk kumpulan cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi pada tahun 1997.

0 komentar:
Posting Komentar